May 07, 2020

Musim Kelam Dari Persib Bandung

Bersama Persipura Jayapura, PSM Makassar, dan Persija Jakarta, Persib Bandung merupakan tim yang selalu eksis di kasta tertinggi atau belum pernah turun kasta. Meski demikian, perjalanan Maung Bandung mengalami pasang surut dari seluruh musim yang telah dijalaninya.

Musim terbaik Persib didapat pada Liga Indonesia 1994/95 dan Indonesia Super League 2014. Pada dua musim tersebut, Pangeran Biru sukses mengukuhkan diri sebagai kampiun Liga Indonesia.

Dua kali pernah merajai Liga Indonesia, Persib bukannya tanpa cela. Perjalanan Maung Bandung tak selalu mulus di beberapa edisi Liga Indonesia, bahkan sempat beberapa kali berjuang di papan bawah demi terhindar dari zona degradasi.

Beruntung, hubungan antara Dewi Fortuna dan Pangeran Biru selalu romantis. Persib pun selalu diberkati keselamatan saat bergumul di jurang degradasi dalam beberapa edisi Liga Indonesia, sehingga masih selalu eksis di kasta tertinggi Tanah Air hingga sekarang.

Berikut Tiga Musim Kelam Dari Persib Bandung

Musim: 2003
Posisi: 16
Pelatih: Marek Sledzianowski (dipecat), Bambang Sukowiyono & Iwan Sunarya (kartaker), Juan Paez
Pemain kunci: Imral Usman, Alejandro Tobar, dan Claudio Lizama

Mau untung malah buntung, begitu kira-kira gambaran skuat Persib pada musim 2003. Di musim itu, Persib meninggalkan kebijakan penggunaan seratus persen pemain lokal. Untuk pertama kali, Persib merekrut pemain asing sekaligus pelatih asing, Marek Sledzianowski.

Revolusi yang dilakukan Persib dikarenakan pada musim sebelumnya Dadang Hidayat dan kawan-kawan gagal menembus fase delapan besar Liga Indonesia. Kedatangan rombongan pemain asing dari Polandia pada 2003 bukannya mendongkrak prestasi malah menghadirkan petaka baru.

Dari 19 laga di putaran pertama, Persib hanya sanggup menang tiga kali. Imbas dari rentetan hasil buruk itu, rombongan pelatih kepala dan pemain asal Polandia pun akhirnya dipecat. 

Pada putaran kedua, Persib mendatangkan rombongan pelatih dan pemain asal Cile yakni Juan Paez (pelatih kepala), Alejandro Tobar, Claudio Lizama, Rodrigo Lemunao, dan Alejandro Sanhueza. Tugas berat diemban Paez karena ia memulai tugasnya di Persib saat di posisi buncit.

Perlahan tapi pasti, Paez mulai membawa Persib merangkak naik meninggalkan zona merah. Di akhir musim, Paez berhasil menempatkan Persib di urutan ke-16, atau satu strip di atas zona degradasi.

Karena pada akhir musim bercokol di peringkat 16, Persib pun mesti memainkan laga play-off di Surakarta demi mengamankan satu tempat di Divsi Utama Liga Indonesia musim berikutnya. Pada laga play-off, Persib akhirnya mampu mengalahkan Persela Lamongan, dan PSIM, serta bermain imbang dengan Perseden Denpasar, sehingga bisa memastikan diri bertahan di kasta tertinggi Liga Indonesia.

Musim: 2006
Posisi: 12 wilayah barat
Pelatih: Risnandar Soendoro (dipecat), Djadjang Nurdjaman & Dedi Sutendi (kartaker), Arcan Iurie
Pemain kunci: Kosin Hathairattanakool, Redouane Barkaoui, Eka Ramdani

Pasca-gagal menembus fase delapan besar Liga Indonesia 2005 bersama pelatih Indra Thohir, Persib merombak skuad sekaligus mendaulat Risnandar Soendoro sebagai pelatih kepala baru. Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, karier Risnandar pun hanya seumur jagung.

Baru menjalankan dua laga, Risnandar harus menanggalkan jabatannya sebagai pelatih kepala. Hal itu merupakan buntut dari dua hasil buruk di kandang sehingga didesak mundur oleh Bobotoh.

Pada pekan kelima, Persib menunjuk Arcan Iurie sebagai nakhoda baru Persib. Selain itu, Persib juga menambah dua amunisi asing baru yakni Kosin Hathairattanakool dan Redouane Barkaoui.

Kehadiran Iurie, Kosin, dan Barkaoui cukup memberikan Persib nafas tambahan meski belum bisa meroket ke papan atas. Pada 27 Mei 2006, Yogyakarta dilanda gempa bumi dan hal itu pun bisa menjadi berkat untuk Persib. Akibat gempa bumi, pesaing Persib di wilayah barat asal Yogyakarta, PSIM mengundurkan diri pasca-gempa bumi.

PSIM yang mempunyai enam laga tersisa kemudian melepaskan laga itu. Si Pangeran Biru pun akhirnya diselamatkan Sang Dewi Fortuna lagi untuk terhindar dari degradasi sekaligus berhasil mengamankan tiket bertahan di Divisi Utama musim. Kepastian Persib bertahan di Divisi Utama pun dipertegas oleh raihan empat poin dari tur Sumatera pada laga tandang terakhir musim itu.

Musim: 2017
Posisi: 13
Pelatih: Djadjang Nurdjaman (dipecat), Herrie Setyawan (kartaker), Emral Abus
Pemain kunci: Raphael Maitimo, Ezechiel N’Douassel, Achmad Jufriyanto

Kedatangan eks Chelsea, Michael Essien dan Carlton Cole pada 2017 ternyata tidak memberi garansi pada Persib untuk tampil garang. Dana besar yang digelontorkan manajemen untuk mendatangkan marquee player tak berbanding lurus dengan capaian Persib di Liga 1 2017.

Pada putaran pertama, Persib hanya mampu meraup 19 poin dari 51 poin yang berpeluang didapatkan. Paruh pertama pun diakhiri Persib dengan berada di peringkat ke-14 atau dua strip di atas zona degradasi. 

Cole yang digadang-gadang sebagai striker utama pun tak mampu menorehkan satu gol pun. Penampilannya bahkan masih kalah tajam dari gelandang Raphael Maitimo yang pada musim itu menjadi pemain tersubur Persib dengan sembilan gol.

Cole dilepas Persib menjelang putaran kedua dan digantikan oleh striker tim nasional Chad, Ezechiel N’Douassel. Kehadiran nya mampu memberikan kontribusi positif. Terbukti, Persib mampu tampil tak terkalahkan di sepuluh laga awal putaran kedua sekaligus menjauh sedikit dari zona degradasi.